Liburan akhir semester 4 SMA IIBS tampaknya akan manjadi suatu hal yang menyenangkan bagi seluruh siswa siswi SMA IIBS. Pasalnya, bagi mereka yang bersekolah di sekolah berasrama tersebut, liburan merupakan suatu hal yang dinanti – nanti oleh semua murid.Tetapi tampaknya hal itu berbeda dengan tiga orang anak yang “dipaksa” untuk mengikuti sejumlah pelatihan dan ajang yang akan diselenggarakan tepat pada waktu liburan. Tentu saja ini akan menjadi sebuah pertimbangan yang berat mengingat liburan ini akan menjadi liburan terakhir mereka sebelum pada akhirnya meraka akan menghadapi soal demi soal untuk persiapan UN dan SPMB.
Tiga orang malang tersebut adalah Edwin, Faza dan Wildan. Mereka terpilih sebagai perwakilan sekolah untuk mengikuti karantina, yang bertempat di kampus IPB (Institut Pertanian Bogor) Darmaga untuk melakukan presentasi mengenai agroteknologi, sebuah topik yang sama sekali berbeda dari pemikiran mereka yang masih berada jauh di belakang.
Bagi ketiga anak tersebut, mengikuti program seperti itu pada waktu libur merupakan salah satu keputusan terberat yang harus mereka ambil. Tapi bagaimanapun juga, mereka tetap harus mengikuti karantina suka atau tidak suka.
Hari pertama, mereka yang seharusnya sudah meninggalkan IIBS pada pukul 07.00 WIB, terlambat 30 menit hingga pukul 07.30 WIB. Mereka yang memang dasarnya memang tidak bersemangat untuk mengikuti program tersebut berangkat dengan perasaan menyesal akibat liburan terakhir mereka yang pada akhirnya diambil untuk mengikuti program karantina mewakili sekolahnya. Yah, apa dikata, nasi sudah menjadi bubur. Yang terjadi, terjadilah.
Sesampainya anak–anak tersebut di wisma amarilis, sebuah tempat penginapan di IPB, ada kesan yang membuat mereka sadar bahwa mereka adalah orang yang paling santai yang berada di tempat tersebut. Terlihat anak–anak yang lain sedang sibuk menyiapkan laptop mereka untuk latihan presentasi, atau anak di sebelah kamar yang bernama Sukron, yang sedang melatih intonasi pengucapan saat ia akan melakukan presentasi nantinya.
“Win, kayaknya kita emang anak–anak yang paling ga’ niat buat ngikut deh win. Coba aja lo liat, ga’ ada anak yang cengengesan kayak kita gini..” kata Wildan.
“Haha, nggak apa–apa. Yang penting kan kita ke sini aja udah bagus. Dua puluh besar nasional ! Jalanin aja deh apa adanya dulu.” Edwin menjawab.
Pertemuan pertama, diwarnai dengan keterlambatan (kembali) murid – murid SMA IIBS beserta pembimbingnya pada pembukaan acara karantina. Mereka yang mengenakan seragam putih-putih layaknya angkatan laut RI, masuk ke ruangan dengan disambut tatapan para peserta lainnya, yang dari tatapannya terlihat jelas bahwa mereka seperti menganggap IIBS sebagai sekolah elit, internasional dan dengan biaya yang tidak murah, tentunya. Padahal mereka belum menyadari bahwa anak – anak IIBS yang masuk ke ruangan tersebut adalah anak–anak yang kerjanya hanya main dan tertawa di sebagian besar hidup mereka di asrama IIBS.
Setelah acara pebukaan tersebut, barulah semua peserta istirahat, shalat dan makan siang. Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke laboratorium IPB yang pada saat itu digunakan untuk pelatihan pembuatan roti.

Pelatihan kilat tersebut pun dimulai. Para peserta digiring ke ruangan dimana akan dijelaskan bagaimana proses fisis dan kimiawi pada pembuatan roti dari tepung terigu hingga menjadi roti yang biasa dikonsumsi oleh masayarakat.
Anak – anak IIBS pun adalah anak – anak yang menjadi sorotan para panitia, karena mereka sering sekali terlihat seru dengan pekerjaan mereka bertiga. Berbeda dengan para peserta lainnya yang sangat antusias memperhatikan kakak–kakak mahasiswa IPB.
Kak panitia pun berbicara “Wildan, Faza, Edwin? Kok kalian nggak ngerjain roti kayak yang lain? Malah ketawa–ketawa sendiri di belakang?”
“Hehe, iya kak. Kita lagi mengamati kok, nanti juga kita kerja” Kata Wildan.
Begitulah hari–hari yang dilalui anak–anak IIBS selama mengikuti karantina di IPB Darmaga, penuh dengan canda, sedikit keseriusan dan sedikit ketekunan. Mungkin itulah yang membedakan anak – anak IIBS dengan peserta lainnya yang datang ke IPB dengan segenggam harapan dan semangat yang berkobar, penuh persiapan dan ambisi yang besar.
Pada keesokan harinya, tibalah pada acara puncak, yaitu pada presentasi keduapuluh finalis lomba di depan para dosen IPB. Bagi sebagian orang, mungkin ini adalah saat – saat yang sangat menegangkan, tampil mempresentasikan esai mereka di hadapan para juri yang merupakan dosen kampus IPB.
Tapi tidak dengan Wildan, Faza dan Edwin. Dengan perisapan seadanya, dan kepercayaan diri yang tinggi, mereka siap untuk bersuara kepada dunia bahwa “we’re the best!”.
Prsentasi pun berlangsung. Seperti perkiraan, dosen–dosen tersebut melayangkan pertanyaan – pertanyaan mematikan yang memang bertujuan untuk mematahkan kata–kata dari kami sebagai peserta. Peserta memang diuji layaknya mengajukan sebuah skripsi.
Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi ketiga siswa – siswa IIBS tersebut. Dengan modal senyum dan bahan presentasi seadanya, mereka berhasil mempresentasikan esai mereka dan mempertahankan argumen mereka dari “serangan” pertanyaan–pertanyaan dari sang juri.
Malam itu merupakan saat–saat yang ditunggu–tunggu oleh semua perserta. Karena malam itulah juga yang merupakan pengumuman 6 besar presentasi nasional, saat – saat yang menentukan hasil dari jerih payah perjalanan mereka ke IPB Darmaga Bogor, keringat yang mereka cucurkan untuk mempersiapkan prototipe dan presentasi yang memang tidak mudah untuk di kerjakan dalam waktu singkat.
Setelah menimbang beberapa hal, didapatlah keenam peserta unggulan yang akan “bertarung” kembali di Gedung Abdul Muis Nasution keesokan harinya di hadapan juri yang berbeda, tentunya. Mereka akan memamerkan hasil penelitian mereka atas penemuan mereka yang nantinya akan berkontribusi besar dalam pertanian Indonesia.
Keesokan harinya, setelah melakukan presentasi yang secara keseluruhan bagus, dipilihlah 3 besar yang menjadi juara lomba tersebut. Mereka adalah Boni dari Banten, Yoshua dari Jawa dan Disa dari Denpasar. Mereka memang menunjukkan materi presentasi yang bagus, penemuan dan inovasi yang menakjubkan dan cara berbicara yang patut diacungi jempol.
Tibalah saatnya bagi para peserta untuk pulang. Kita semua harus melupakan kenangan yang sudah kita rajut selama 3 hari di IPB dan berbagai pengalaman yang kita dapat selama di sana.
Memang anak–anak IIBS pada kala itu belum bisa meraih juara. Tetapi, bagai mereka, kepulangan mereka merupakan kemenangan besar berupa pengalaman yang akan mereka simpan hingga dewasa nanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar